‘Flatliners’: Mengintip Kehidupan Sesudah Mati

0
100

Jakarta – Di awal 1990-an, ‘Flatliners’ dirilis dan berhasil diterima sebagai sebuah tontonan yang cukup menghibur. Meskipun hampir semua orang setuju bahwa premis filmnya terlalu menggelikan, kharisma para pemainnya—Julia Roberts, Kiefer Sutherland, Kevin Bacon—cukup membuat mereka anteng dan betah untuk menyaksikan orang-orang yang mencoba untuk merasakan mati. 2017, tahun dimana kreativitas mulai sekarat dan nostalgia menjadi aset penting untuk mengeruk dollar, Hollywood memutuskan untuk me-remake Flatliners. Mahasiswa Kedokteran bernama Courtney (Ellen Page) bersama teman-temannya; Ray (Diego Luna), Marlo (Nina Dobrev), Jamie (James Norton) dan Sophia (Kiersey Clemons) menyusup ke ruang bawah tanah rumah sakit untuk bermain-main dengan kematian.Foto: Flatliners (imdb)Mereka bereksperimen dengan bunuh diri. Mencoba mati selama 2-3 menit kemudian dihidupkan kembali oleh teman-teman mereka. Efeknya luar biasa. Seperti narkoba, mereka bisa melihat cahaya-cahaya terang benderang. Ingatan mereka lebih kuat dan mereka seperti bisa “mencium” masa lalu. Mereka merasakan hidup yang lebih paripurna. Karena efeknya ini, mereka ketagihan untuk terus-terusan “mematikan” diri mereka untuk sementara.Kemudian, perlahan namun pasti, mereka mulai diikuti oleh sosok-sosok misterius. Sosok-sosok ini sepertinya adalah orang-orang yang pernah bersitegang dengan mereka di masa lalu. Apakah sosok-sosok ini hanyalah fragmen dari halusinasi atau memang benar-benar terjadi, mereka tidak tahu. Kini mereka mulai paranoid dengan keselamatan hidup mereka.Foto: Flatliners (imdb)Ditulis oleh Ben Ripley, ‘Flatliners’ versi 2017 tidak menawarkan sesuatu yang baru. Premisnya masih sama dengan film originalnya. Yang membedakan hanyalah keputusan karakter-karakternya untuk melakukan sesuatu masih tetap bodoh. Ben Ripley tidak hanya gagal me-rework kejanggalan film aslinya, ia juga menambahkan berbagai adegan yang tidak meyakinkan di sequence-sequence afterlife. Bahkan “kekuatan” yang mereka dapatkan setelah mereka mati juga tidak menolong Flatliners untuk melangkah dengan gagah. Seakan itu belum cukup, Ripley juga menutup ‘Flatliners’ dengan nada yang sumbang. Kesimpulannya begitu lemah. Padahal awal-awal ‘Flatliners’ cukup menjanjikan sebuah hiburan yang menarik.Sutradara Niels Arden Oplev pernah digadang-gadang sebagai sutradara yang berbakat lewat adaptasi The Girl with the Dragon Tattoo—versi 2009. Namun bakatnya tidak terlihat di film ini. Semua aktornya, bahkan veteran Ellen Page dan Diego Luna tidak berhasil untuk menampilkan kharisma mereka. Dengan karakterisasi yang tipis, tidak ada satu pun pemainnya berhasil meniupkan semangat mereka ke sebuah film yang begitu loyo ini.Semua itu kemudian diperburuk dengan usaha Oplev yang setengah-setengah dalam membuat penonton terlibat dengan paranoia karakternya. Oplev mencari jalan gampang untuk menakut-nakuti penonton dengan obral jump-scare yang cukup murah. Hasilnya adalah sebuah karya yang gampang dilupakan. Tidak ada kepribadian yang jelas untuk membuat film ini mentereng di tengah-tengah serbuan remake tahun ini. ‘Flatliners’ mungkin hadir untuk membuat kita ketakutan, namun hasilnya justru sebuah ketakutan bahwa semua remake hasilnya separah film ini.Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International
(doc/doc)

Sumber Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here