‘100 Mak Nyus,’ Warisan Kuliner dari Bondan Winarno yang Berharga

0
73

Jakarta – Bukan hanya memandu program kuliner di TV, mendiang Bondan Winarno juga aktif menulis buku. Rangkaian buku 100 Mak Nyus jadi peninggalan berharga darinya.Mendokumentasikan seluruh kuliner Indonesia bukanlah perkara mudah. Tetapi hal ini perlu dilakukan agar ribuan kuliner khas Indonesia tetap dikenal oleh generasi masa mendatang.Berangkat dari keyakinan ini, mendiang Bondan Winarno mengeluarkan buku 100 Mak Nyus pada tahun 2013. Pengumpulan data untuk buku ini sudah dimulai sejak 2011 dengan judul awal 100 Kuliner Pusaka Indonesia.Foto: Agung PambudhyBaca Juga: Pakar Kuliner Bondan Winarno Wafat Pagi Ini Diakui Bondan kala itu, pemilihan konten buku benar-benar berdasarkan preferensi pribadinya, bukan dengan membentuk suatu tim khusus. Ia bahkan sempat menangis karena beberapa kuliner favoritnya terpaksa tak masuk buku gara-gara keterbatasan ruang.Buku 100 Mak Nyus memuat sebagian kuliner khas 23 provinsi Indonesia dengan penjelasan umum ciri khas sajian di wilayah tersebut, deskripsi mengenai beberapa hidangan, resep, serta rekomendasi tempat makan. “Beberapa provinsi tak masuk dalam buku karena saya tidak menemukan kuliner khas daerah tersebut,” jelas Bondan saat itu.Setelah itu, ia juga meluncurkan edisi 100 Mak Nyus lainnya. Ada 100 Mak Nyus Jakarta, Bali dan Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang). Ketiga buku ini ditulis Bondan bersama Lidia Tanod dan Harry Nazarudin.Foto: detikFoodRangkaian buku 100 Mak Nyus bisa dibilang warisan kuliner berharga dari Bondan karena informasi yang sangat berguna di dalamnya. Ada informasi lengkap soal deskripsi masakan enak di suatu daerah, resep terkait hingga informasi tempat makan yang menyiapkan makanan tersebut.Baca Juga: 40 Tahun Bersahabat dengan Bondan Winarno, Ini Kesan William WongsoPada buku 100 Mak Nyus Joglosemar, misalnya, ada sub-bab menarik dimana Bondan dan rekannya memberi referensi perjalanan 24 jam di Jogja, Solo dan Semarang. Berjudul “24 Jam di Jogja,” “24 Jam di Solo,” dan “24 Jam di Semarang,” penulis menuangkan rincian perjalanan yang dilengkapi perkiraan waktu.Foto: detikFoodDalam kata pengantarnya, Bondan, Lidia dan Harry mengatakan ‘100 Mak Nyus Joglosemar’ merupakan sumbangan nyata ketiganya pada Indonesia. Buku ini diharapkan bisa menjadi bahan advokasi untuk menempatkan kuliner sebagai lokomotif industri pariwisata.Nah, bagi pencinta kuliner Indonesia, buku 100 Mak Nyus rasanya patut dimiliki. Buku ini memberi informasi penting soal masakan tradisional Indonesia sekaligus penjualnya yang masih bertahan.(adr/adr)

Sumber Disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here